Mengenal Tradisi “Pantauan Bunting” di Kabupaten Lahat

Oleh : Winda Ainurrahmi – Pagar Gunung (Mahasiswa Prodi Ekonomi Syari’ah) Universitas Islam Negeri Fatmawati Sukarno Bengkulu

Jumat, 3-Desember-2021, 15:21


Sesuai dengan yang dinyatakan penulis dalam buku Himpunan Adat Istiadat Besemah (2009:3). Ia menyatakan “Adat istiadat adalah segala bentuk kegiatan, perbuatan dan tindakan kesesuaian serta kebiasaan masyarakat yang menjadi tingkah laku dalam kehidupan sehari-hari antara satu sama lain, seperti sopan santun, upacara adat hukum adat”. Adat istiadat ini terdiri dari dua bagian, yang pertama tidak mempunyai akibat hukum atau reaksi adat yang disebut “adat istiadat”, kedua mempunyai akibat hukum atau reaksi adat yang disebut “adat lembaga”.

Pagar Gunung tidak saja dikenal dengan keramah tamahan orangnya, kekayaan akan aset wisata alam, dan wisata budaya. Ternyata juga menyimpan warisan budaya yang sampai saat terus berkembang dan berakar serta dilestarikan, terlepas dari hal tersebut dirasakan lebih bermaanfaat lebih atau tidak.

Demikian pula dalam hal adat istiadat, di Pagar Gunung terkenal dengan adat Nemui Rasan, Ngantat Palaian, dan Pantauan Bunting. Adat tersebut akan dijumpai jika terdapat orang yang akan ngagokkah atau melaksanakan pesta pernikahan. Pada saat melaksanakan pesta pernikahan baik saat akad maupun resepsi dan ngunduh mantu. Terdapat tradisi warisan budaya yang masih mengakar sampai saat ini yaitu Pantauan Bunting, yaitu Pengantin akan diajak keliling kampung bersama dengan rombongan Karang Taruna. Pada saat pelaksanaan pesta pernikahan biasanya diadakan dua hari, hari “Nyembelih” dan hari “Jadie”. Pada hari pertama atau hari Nyembelih akan diadakan adat istiadat yang masih sering dipakai yaitu Pantauan Bunting.

Menurut salah satu tokoh masyarakat Pagar Gunung, Wasroh, tradisi Pantauan Bunting adalah Pengantin akan diajak keliling kampung bersama dengan rombongan Karang Taruna. Dalam hal ini pengantin akan menaiki satu persatu rumah warga untuk mencicipi hidangan yang telah disediakan warga. Jadi, jika dirumah tempat ngagokkah ada hidangan-hidangan untuk para tamu maka disetiap rumah warga akan ada juga hidangan-hidangan yang tak kalah lezat dan spesial untuk pengantin. Hidangan yang disajikan pun bukan sembarang hidangan, melainkan makanan-makanan khas seperti Rendang, Ayam Nanas, Tumis Buncis Ati Ampela, dan Ikan Bumbu Kacang Asam Manis. Untuk pendampingnya juga biasanya dihidangkan camilan seperti Peyek Kacang, Keripik Pisang, Kembang Goyang , dan masih banyak lagi. Minumannya juga tak kalah lezat, ada Cendol, Es Buah, Teh, Kopi, ataupun air putih.

Dalam tradisi ini, selain karang taruna ada juga Bujang dan Gadis Ngantat yang bertugas ikut kemana saja pengantin serta menyiapkan segala keperluan pengantin, seperti membalik sandal pengantin, mengambilkan makanan, dan membenahi make-up pengantin wanita jika sudah belepotan. Dimana Bujang Ngantat bertugas membantu pengantin pria dan Gadis Ngantat bertugas membantu pengantin wanita.

Dalam rombongan pun terdapat satu orang yang biasa disebut sebagai “Penunde”, yaitu orang yang akan menentukan rute perjalanan. Biasanya yang menjadi Penunde ini adalah anggota senior dari karang taruna yang sudah berpengalaman dalam mengikuti tradisi Pantauan ini. Penunde ini akan menjadi pemimpin perjalanan. Kadang ia harus siap beradu argument dengan ibu-ibu yang menginginkan rumahnya dinaiki terlebih dahulu padahal tidak sesuai rute.

Nah, ternyata beragam tradisi yang menunjukan kebiasaan yang memperkaya budaya daerah. Termasuk adat yang wajib ada saat ngagokkah adalah Pantauan Bunting. Acara keliling kampung sambil makan-makan tersebut wajib dilakukan setiap pengantin.

Uniknya pada tradisi Pantauan tersebut biasanya pengantin dilarang lewat di bawah “Kemuhu”, yaitu bambu yang biasa dipakai untuk menjemur baju. Menurut kepercayaan masyarakat setempat hal tersebut akan membuat rumah tangga yang terjalin nantinya akan kurang harmonis.

Setelah melakukan adat ini biasanya pengantin beserta rombongan akan mandi di sungai, hal ini dilakukan sebagai healing setelah lelahnya berkeliling kampung, kemudian dilanjutkan dengan acara akad nikah bagi pengantin yang belum melaksanakan akad nikah di pagi hari. Ataupun bersiap-siap untuk mengadakan resepsi jika hari “Jadie” dilaksanakan pada malam hari. Namun dijaman sekarang banyak yang lebih memilih melaksanakan hari “jadie” tersebut pada keesokan harinya.

Ternyata, Pagar Gunung memiliki sejuta kekayaan, termasuk kekayaan akan tradisi budaya yang sudah mengurat mengakar, dan tetap dilestarikan hingga kini menjadi ciri khas, suku yang ramah, suka bergaul dan menganggap saudara bagi pendatang yang, serta sifat kekeluargaannya masih sangat kental.

PANTAUAN BUNTING : Tampak Pengantin sedang menikmati makanan di salah satu rumah warga bersama dengan gadis ngantat. Foto diambil saat Pantauan Bunting Anggita dan Revaldo.

donasi relawan lahatonline.com
Bagikan ke :
Share on Facebook Share on Google+ Tweet about this on Twitter Email this to someone Share on LinkedIn Share on Whatsapp

BERITA TERKINI

LAHAT - Jumat, 28-Januari-2022 - 21:40

Wabup Lepas Jemaah Umroh Asal Lahat

selengkapnya..

LAHAT DALAM POTRET

LAHAT
MERAPI TIMUR - MERAPI BARAT - MERAPI SELATAN
LAHAT SELATAN - GUMAY ULU - PULAU PINANG - PAGAR GUNUNG - TANJUNG TEBAT - KOTA AGUNG - MULAK ULU - MULAK SEBINGKAI
TANJUNG SAKTI PUMI - PUMU - JARAI - PAJAR BULAN - SUKA MERINDU - MUARA PAYANG
GUMAY TALANG - PSEKSU - KIKIM TIMUR - KIKIM SELATAN - KIKIM BARAT - KIKIM TENGAH

PAGAR GUNUNG - Kamis, 27-Januari-2022 - 19:23

DESA DANAU GELAR MUSDESUS TETAPKAN 66 KPM BLT

selengkapnya..

Nak Keruan Gale

Seni Budaya

Wisata

Almamater