TAMAN BATU ORGANIK DAMSI DESTINASI WISATA BUATAN YANG EPIC

Selasa, 17-September-2019, 09:54


LAHAT ONLINE, BANDU AGUNG – Taman Batu Organik Damsi, yang terletak di Desa Bandu Agung Kecamatan Muara Payang Kabupaten Lahat, menjadi salah satu destinasi wisata yang patut dikunjungi. Taman buah tangan sang maestro bernama Damsi, menjamin pengunjungnya untuk melepas penat dari kesibukan sehari hari.

Lokasi taman itu berada cukup jauh dari pusat Kabupaten Lahat, meski termasuk ke dalam bagian Bumi Seganti Setungguan, namun letaknya berada di Kecamatan Muara Payang yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Empat Lawang.

Agar dapat tiba disana, pengunjung dapat melewati jalan lintas Pagaralam – Bengkulu. Iya, sesuai lokasinya, dari Lahat Kota, pengunjung akan melintasi Kota Pagaralam, kemudian masuk di Kecamatan Jarai, dengan jarak tempuh perjalanan sekitar 15 menit baik meggunakan kendaraan roda dua maupun empat, barulah tiba di Desa Bandu Agung Kecamatan Muara Payang, tempat dimana taman itu dibuat.

Menuju ke lokasi, Pengunjung bisa menggunakan sepeda motor atau berjalan kaki, dari Desa Bandu Agung, pengunjung harus rela meninggalkan mobil mereka, sebab akses jalan menuju kesana cukup sempit. Namun tenang saja, pengunjung tidak akan kecewa dengan panorama taman, meski buatan, namun bahan dasar taman disediakan alam, alias alami.

Memasuki areal taman, pengunjung akan melihat susunan bebatuan yang epic. Batu batu disusun berjejer, membentuk tembok sebagai dinding pembatas, juga sebagai tanda, bahwa pengunjung telah memasuki areal taman.

Setelah masuk kedalam, pengunjung akan melihat berbagai macam keunikan, mulai dari susunan batu yang disusun sedemikian rupa sehingga terlihat sangat rapi, hingga suasana yang asri, yang penuh dengan tanaman hijau. Batu batu itu seolah punya sisi yang sempurna, terlihat setiap bagiannya tampak presisi dengan bagian batu lainnya.

Taman itu, dibuat diatas lahan seluas 3 hektar, yang awalnya merupakan kebun kopi. Namun ditangan Damsi, secara bertahap, bagian kebun kopi diubah menjadi taman yang indah dengan susunan batu dan tanaman bunga serta buah organik.

Damsi mengatakan, bahwa pembuatan taman tersebut menggunakan peralatan yang sederhana. Dia hanya menggunakan pengungkit dari kayu, serta alat untuk mengangkut batu, tanpa mesin dan alat modern.

“Karena disini banyak batu, saya manfaatkan saja untuk buat taman. Batu disini bekas letusan Gunung Dempo, sehingga bentuknya bisa presisi satu sama lain,” kata dia, Selasa (17/09).

Pria jebolan Universitas Indonesia itu mengaku, pembuatan taman tersebut dimulai sejak tahun 1980an, hingga kini masih terus diperbaiki demi membuahkan mahakarya yang dapat memanjakan mata pengunjung.

“Waktu itu niat saya hanya ingin agar halaman kebun ini terlihat bagus, makanya saya buat taman. Namun, ternyata lama kelamaan, membangun taman ini terasa menyenangkan, saya semakin terpacu untuk mengeksplor bebatuan yang terkubur di lahan ini, mengangkatnya keluar dan menyusunnya. Akhirnya, hingga sekarang saya terus menggali dan membuat bagian bagian taman lainnya,” terang dia.

Damsi menuturkan, dia tidak menyangka warga akan datang untuk berswafoto di taman miliknya. Kendati demikian, dia tidak membatasi pengunjung yang datang, karena dirinya tahu akan manfaat taman tersebut, bagi para pengunjung.

“Saya membangun taman ini sebenarnya untuk uji coba saja, karena disini banyak batu, saya susun sedemikian rupa, sehingga saya dapat menanam secara organik di celah batu. Saya ingin taman di halaman kebun kopi ini enak dipandang, agar saya semangat dalam berkebun. Namun ternyata banyak yang melirik, bahkan menjadikan ini tempat wisata. Selama mereka datang dengan menjaga etika disini, saya persilahkan. Saya juga bersyukur, karya saya dapat dinikmati banyak orang, bahkan memberikan manfaat dalam menghilangkan penat, menjadi tempat untuk berlibur bagi orang orang yang hanya punya waktu luang diakhir pekan,” tutur dia.

Taman tersebut, mengundang penasaran bagi para pengunjung, yang ingin mengajak keluarganya berakhir pekan. Setiap hari, selalu ada yang datang ketempat itu, lantaran ingin menyaksikan proses pembuatan bahkan menikmati panorama taman. Nama taman Batu Organik Damsi pun sudah dikenal hingga ke luar kota, pengujung yang datang bukan hanya berasal dari Lokal Kabupaten Lahat saja, melaikan

Taman Buatan Berbasis Organik

Sesuai dengan namanya, taman tersebut sebenarnya salah satu cita cita Damsi yang masih ia tekuni hingga sekarang. Dia berkeinginan menjadikan tempat itu sebagai situs penelitian berbasis organik, yang pupuknya dikelola secara personal.

Dia memanfaatkan bahan bahan organik untuk membuat pupuk, seperti kulit buah serta dedaunan yang dikomposkan. Bahan baku tersebut ada disekitar taman, sehingga memudahkan dia untuk memproduksi pupuk organik.

Damsi menanam bunga, buah buahan dan sayuran, termasuk lantai taman dari Rumput Gajah Mini, yang juga diberi pupuk organik buatannya. Baginya memberi pupuk organik akan memberikan manfaat baik bagi tumbuh tumbuhan, menyehatkan tanah, memelihara unsur hara tanah, sehingga apabila hasil dari tumbuh tumbuhan tersebut dikonsumsi, maka akan memberikan manfaat kesehatan bagi tubuh manusia.

“Saya ingin mengajak masyarakat untuk perlahan beralih ke organik. Saya selalu jelaskan kepada pengunjung yang datang, bahwa semua yang ada disini sifatnya organik, tanpa sentuhan pestisida dan pupuk kimia. Tumbuh tumbuhan disini masih tetap subur, tidak diserang hama, sehingga menghasilkan bunga yang harum dan buah yang segar,” imbuhnya.

Damsi mengungkapkan, bahwa dirinya ingin menanam kurma ditamannya tersebut. Dia mulai berniat menanam buah kaya manfaat itu, karena mendapati sebuah pohon kurma yang hidup dari biji yang tidak sengaja dibuang.

“Saya tiba tiba ingin menanam kurma, karena ada sebatang kurma yang hidup tanpa ditanam. Pohon itu tumbuh dari biji kurma yang dibuang sembarang. Saya yakin, bahwa salah satu pohon kurma ini, menjadi pertanda bahwa ditanah ini, tumbuhan berjenis palem dari Arab Saudi tersebut dapat dibudidayakan. Saya pun akan menjaganya agar tetap organik, sehingga sehat dikonsumsi,” ungkapnya.

Damsi berharap, taman tersebut bisa menjadi warisan sebagai referensi untuk generasi ke generasi. Dia tidak ingin harapan itu musnah, sehingga mengajak keponakannya untuk membantu dan menjadi cikal bakal penerusnya kelak.

Dia ingin, pengunjung yang datang ke taman miliknya, bukan hanya bersantai, atau menghabiskan akhir pekan saja, melainkan turut mendapatkan ilmu pengetahuan tanaman organik, sehingga dapat menerapkannya dirumah masing masing.

Biaya yang diperlukan untuk kesana terbilang murah, meski dapat menikmati berbagai macam manfaat, namun Damsi tidak mematok harga sebagai tiket masuk. Dia akan sangat berterima kasih, apabila ada yang ingin membantu mengembangkan situs penelitiannya itu walau berapapun nilainya. (rpw).

Bagikan ke :
Share on Facebook Share on Google+ Tweet about this on Twitter Email this to someone Share on LinkedIn Share on Whatsapp

BERITA TERKINI

LAHAT DALAM POTRET

MUARA PAYANG - Selasa, 15-Oktober-2019 - 14:16

AIR TERJUN WATER BLUE BERUBAH JADI HIJAU

selengkapnya..

LAHAT - Senin, 14-Oktober-2019 - 12:14

Zubhan Awali Lantik PJS Desa Manggul

selengkapnya..

KIKIM TIMUR - Senin, 14-Oktober-2019 - 11:57

SMA NEGERI 1 KIMTIM LAKSANAKAN UTS

selengkapnya..

PAGAR GUNUNG - Minggu, 13-Oktober-2019 - 23:33

Monev Hari Ketiga di Empat Desa Berjalan Lancar

selengkapnya..

Jumlah Pengunjung

dgGEREg

Investigasi

Berita Sebelumnya

PanCe

Siape & Tuape

Jajak Pendapat

Nak Keruan Gale

Seni Budaya

Wisata

Almamater