ISI

SEDEKAH ‘PALAK AYEK’ MENJAGA TRADISI KEARIFAN LOKAL

Bersahabat Dengan Alam Untuk Kemakmuran Warga

3-Jan-2018, 13:50


GUNUNG LIWAT – Menjaga tradisi tentu sebuah hal yang wajib dilakukan generasi penerus di sebuah daerah, kearifan lokal yang banyak memberikan manfaat dan kegunaan bagi kehidupan masih lestari di kabupaten Lahat.

Seperti Sedekah Palak Ayek (syukuran mata air) yang dilakukan oleh warga desa Gunung Liwat kecamatan Kota Agung Lahat, selain menjaga tradisi, hal ini sebagai simbol rasa syukur atas rezeki yang diberikan Tuhan Yang Maha Esa.

Acara ini juga bagian dari sumber mata air yang dimanfaatkan oleh warga desa ini, karena mata air tersebut merupakan sumber penghidupan bagi masyarakat yang mayoritas berprofesi sebagai petani.

“Air menjadi sangat penting dalam kehidupan sehari-hari warga kita, selain untuk kebutuhan hidup, air juga komponen penting saat kegiatan bertani. Sumber air ini kita gunakan bagi pengairan areal persawahan yang ada.

Simbolisnya dalam bentuk sedekah atau syukuran, tetapi yang paling pokok nilai kearifan lokal adalah unsur yang diwariskan leluhur kita dahulu,” jelas Helmi, kepala desa Gunung Liwat, Rabu (3/1).

Menjaga tradisi dengan nilai kearifan ini tentu telah terbukti mampu memakmurkan mereka. Bagaimana mereka bila menggarap lahan pertanian yang ada bila air mulai berkurang.

Acara yang dimulai dengan menyampaikan tujuan kegiatan, kemudian dilanjutkan dengan pemotongan hewan ternak (Kambing) yang menjadi simbol ritualnya.

Tak hanya sedekah saja, warga juga melakukan agenda pembersihan jalur irigasi yang ada, agar aliran air dari sumbernya bisa lancar sampai ke lahan pertanian warga.

“Secara berkala kita lakukan, yang pokok menjaga tradisi yang diwariskan, supaya anak cucu kita paham bahwa tradisi ini memang dilakukan agar lestari.

Manfaat tentu tak bisa kesampingkan, artinya kita harus hidup bersama berdampingan, sejalan dengan alam. Warisan tradisi dibuat bukan untuk menyusahkan tetapi agar selalu berjalan sesuai dengan fungsinya,” tambah Lison salah satu warga ini.

Tradisi yang dilupakan, kata Lison, pasti akan mendatangkan kerugian bagi warga desa. Kalau dijabarkan dengan akal sehat, tradisi kearifan lokal telah disesuaikan dengan siklus alam yang ada.

Kalau mata air tak dijaga, akan dirasakan kerugiannya, misalnya air tak lancar sampai ke areal pertanian. Imbas jangka panjang adalah tak bisa digarapnya sawah yang masih terbentang luas didaerah ini.

“Bukan hanya mata air, lingkungan sekitar sumbernya wajib dijaga, karena bila hutan yang ada mulai tak terjaga secara jumlah air pasti akan berkurang.

Bila ingin makmur dalam bertani kita harus bersahabat dengan alam, ini yang kita terus bina, dijaga, dilestarikan agar kemakmuran hadir bagi warga desa,” urainya lagi.

Desa Gunung Liwat adalah salah satu desa yang memiliki luasan areal persawahan dalam jumlah ratusan hektar. Selain mengadalkan komoditi Kopi yang masih mampu menyokong kehidupan warganya. (Indi)

(iklan ini berbayar, Rp.750.000/bulan/1tampilan)

(iklan ini berbayar, Rp.1.000.000/bulan/2tampilan)

(iklan ini berbayar)

(iklan ini berbayar, Rp.1.500.000/bulan/4tampilan)

Bagikan ke :
Share on Facebook Share on Google+ Tweet about this on Twitter Email this to someone Share on LinkedIn Share on Whatsapp

BERITA TERKINI

  • KOTA AGUNG - 21-Jun-2018, 14:37

    HALAL BIHALAL PASCA CUTI LEBARAN

    KOTA AGUNG -Bertempat di aula kecamatan Kota Agung, Kamis (20/6), digelar acara halal bihalal Forum

INVESTIGASI

BERITA SEBELUMNYA

PANjang CeritE

SIAPE Dan TUAPE

VIDEO

BURSAH PARHAN BAGI TAKJIL

  • BURSAH PARHAN BAGI TAKJIL

LAGU LAHAT

  • LAGU LAHAT