ISI

CERPEN UMI SAKDIYAH

27-Nov-2017, 09:20


Ketika Al-Qur’an kecil berjalan di pelataran masjid Ulil Albab

“Ya Allah, jadikan Al-Qur’an yang mulia ini sebagai penyejuk hati kami, pelipur kesedihan kami, cahaya bagi dada kami, pelenyap kesusahan dan kegundahan kami, dan jadikanlah kami ahli Al-Qur’an yang menjadi keluarga-Mu dan orang-orang pilihan-Mu. Wahai Dzat yang Maha Penyayang dari semua penyayang..”

Sabtu kemarin, seberkah cahaya memenuhi senyum simpul dalam hatiku ketika menanti waktu libur akhirnya tiba setelah seminggu melaksanakan amanah dibumi PPL/KKN. Ingin rasanya, sejenak melepas kepenatan dari aktivitas mingguan dengan rihlah tetapi bukan rihlah kepantai atau tempat rekreasi. Melainakan di bulan ramadhan ini, aku ingin merihlahkan hatiku dengan menuju rumah Allah untuk i’tikaf mendekatkan diri dan menyapa Al-Qur’an biruku. Sungguh ada rasa rindu yang mendalam dalam hati saat menanti waktu libur menuju Yogyakarta untuk melaksanakan misi ekspedisi untuk beri’tikaf walau hanya satu malam.

Allah..entahlah ada yang menggelitik di cawan hatiku. Mungkin ini tentang aku dan ramadhanku. Ramadhan yang kian berlalu dan kini telah berada di akhir-akhir. Sebentar lagi? Ya, sebentar lagi ramadhan akan pergi. Lalu, amalan-amalan apa saja yang telah aku persiapkan untuk sebelas bulan kedepan? Agh! Husnudzon sekali perasaanmu! Hei, bisa jadi ramadhan terakhirmu? Apa kabar hatimu? Apa kabar imanmu? Masih adakah setitik ketakutan atau sedang asyik menikmati ramadhanmu dengan berlomba-lomba dalam kebaikan? Bagaimana kabar di setiap waktumu? Sudah bermanfaatkah disela-sela aktivitas duniamu? Bagaimana kabar qur’anmu, sudah nikmatkah berduaan berjam-jam bersamanya? Atau sudah banggakah dengan pencampaian target ramadhanmu? Atau jangan-jangan hanya setitik debu yang bertebaran dibumi tak berakhir? Lalu bagaiman juga kabar lisanmu? Adakah ia trgerak sendiri melantunkan kalam-kalam Illahi disetiap perjalanmu? Apa kabar tarawihmu? Sudah merasa nikmatkah memikirkan Allah semata di setiap gerakan-gerakan shalatmu? Atau hanya sekedar rutinitas di bulan ramadhan? Allaah..betapa hina dan berlumur noda diri ini. Lalu persiapan apa lagi yang telah kulakukan diakhir-akhir usiaku? Akankah ini ramadhan terakhirku? Astaghfirullaah ampuni dosa-dosa hamba Ya Rabb.. Dekap hati ini untuk memberikan catatan yang terbaik disisa-sisa usiaku ini. Hadirkan dan buat hatiku merindu disetiap detik nafasku.

Tepat pukul dua siang, kuawali perjalanan menuju Yogyakarta dengan bismillaah menuju masjid Ulil Albab di Universitas Islam Indonesia jalan kaliurang dengan mengendarai motor kesayangan. Perjalanan pun antara bumi KKN/PPL dan Yogyakarta adalah sekitar satu jam. Langit sore mulai meremang dengan keindahan senjanya. Lambaian angin sore yang seakan melambai menyambut kedatanganku dengan riuh. Ada sejuta rindu dalam hatiku bertemu denganMu. Ketika hatiku bergemuruh menikmati perjalanan dengan melantunkan surat-surat hafalanku. Mengejar waktu untuk tiba sebelum adzan berkumandang memecah kesunyian malam. Setiap perjalanan memang memiliki cerita dan pemaknaan tersendiri di dalam hati. Maka nikmat iman mana lagi yang harus aku dustakan ketika Allah masih mendekap hati yang hina ini. Ketika hati masih dibuatnya bergetar, tubuh merinding dan air mata bercucuran karena dibacakkan ayat-ayatNya? Maka nikmat mana lagi yang harus kudustakan? Ketika Allah takdirkan aku untuk beriti’kaf dimasjid Ulil Albab walau hanya satu malam.

SubhanAllaah..luar biasa para muslimah yang mengikuti i’tikaf di masjid Ulil Albab. Setiap sudut pelataran ramai oleh para muslimah yang sedang sibuk membaca Al-Qur’an. Berduaan dan bermesraan bersama Al-Qur’an hingga larut malam. Suara Al-Qur’an yang tak pernah terhenti oleh dinginnya malam. Selalu saja ada orang yang menyuarakan dan membumikannya didalam masjid. Hingga tak tersadar ternyata aku sudah membaca Alqur’an sebanyak dua belas juz selama satu malam. SubhanAllah betapa nikmat tilwah bersama Al-Quran.

Shubuh telah berlalu suara adzan telah berkumandang memecah kesunyian malam ditambah dengan lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an yang dibacakan oleh para hamba-hamba yang haus akan cintaNya. Pemandangan yang sangat indah ketika para manusia sibuk berlomba-lomba dalam kebaikan di bulan yang berlipat ganda pahalaNya. Ketika hati-hati mulai ada rasa takut dan khawatir bila tertinggal tilawah beberapa menit saja.

Waktu di bulan ramadhan terlalu mahal untuk dilewatkan tanpa arti pahala. Lima menit saja waktu sangat berharga bila digunakan untuk membaca satu lembar Al-Qur’an. Maka merugilah orang yang tidak mau membaca dan mempelajari Al-Qur’an karena pada hari kiamat ia akan memberikan syafa’at bagi orang yang membacanya.

“Jika hati ini bersih nicahaya tidak akan pernah bosan membaca Al’Qur’an..”

Utsman bin affan

Pagi menjelang siang, mataku tertuju kepada anak kecil berjilbab panjang yang sedang asyik memegang Al-Qur’an sendiri di sudut pelataran masjid Ulil Albab. Hatiku semakin penasaran akan anak kecil itu. Diam-diam kuperhatikan dan kufoto dirinya dari kejauhan.Ternyata samar-samar foto yang kuambil tidak jelas gambarnya. Akhirnya, perlahan-lahan aku semakin mendekati anak kecil itu sambil mengendap-ngendap sembunyi tanpa suara agar tidak ketahuan bahwa aku sedang mencuri-curi wajahnya. Tetapi sepertinya anak kecil itu, merasakan bahwa ia sedang di foto secara diam-diam. Aku pun semakin penasaran dan ingin mendekati serta menyapanya. Akhirnya aku pun perlahan mendekatinya dengan ragu-ragu dan memberanikan diri meski mulanya khawatir bila anaknya akan malu-malu dan pergi dari hadapanku tetapi pikiranku salah.

Kusapa anak kecil itu dengan senyum ta’dzim “Dik, lagi baca surat apa?” Anak kecil itu melihatku dengan senyum malunya. “Lagi membaca surat Al-ahqaf Mbak..” Sambil memperlihatkan tulisan yang ada di lembaran Al-Qur’an. “Ayo..coba ngaji lagi dik. Mbak ingin mendengarkan suara tilawahmu” pintaku. Dibacanya ayat per ayat dan kulihat ayatnya dan ternyata anak kecil itu membaca dengan benar. Allah. Ucapku terkagum-kagum.

Tak berapa lama, tiba-tiba datang seorang Ibu menghampiri perbincangan kami dipelataran masjid Ulil Albab “Wah, disini dik..Ummi mencari-cari.” ucap Ibu itu dengan suara lembut dan senyuman yang mendarat dihadapanku dan anaknya sambil ikut duduk bergabung bersama. Selanjutnya sapaku langsung menginggapi ibu itu sambil mencium tangannya “Assalamu’alaikum Bu Apakah ini anak ibu?” ujarku dengan senyuman penasaran. “Iya..Mbak..”jawab Ibu dengan membalas senyumku. “SubhanAllaah..kecil-kecil sudah bisa membaca Al-Quran Bu..” ucapku terkagum-kagum.

Pembicaraan pun semakin menarik hatiku, ketika Ibu itu mulai berbicara kembali. “Iya mbak..Alhamdulillaah dia sudah hafal beberapa juz.” Ucap Ibu itu. Yang membuatku spontan tercengang dengan kata-kata “ Beberapa juz..Ha? Iyakah Bu..?” Tanyaku seakan tidak yakin. “Iya..Mbak..adik sudah hafal 5 juz Al-Qur’an” ucap Ibu sambil menanyakan langsung kepada putrinya itu. “Sudah berapa juz hafak dik?” hanya senyum malu-malu yang di goreskannya dihadapanku.

Percakapan antara Aku, Ibu, dan Anak kecil di pelataran masjid Ulil Albab :

“Namanya siapa dik?” tanyaku dengan penuh penasaran.

“Khadijah safiyatun nursalam” jawabnya dengan malu-malu.

“Umurnya berapa?”

“Lima”

“Hafalannya sudah berapa juz dik?”

“Lima” “Dari juz berapa aja dik?” tanyaku kembali.

“Gak tau” dengan gaya suara yang lembut.

“Dari juz tiga puluh sampai terakhir surat apa dik?” Tanya Ibu kepada putrinya.

“Qaf” jawab anak kecil itu dengan lesat, polos, dan jujur.

Allah..akupun merinding, malu, kagum, semua rasa bercampur menjadi satu mendengar cerita langsung dari Ibunya. Air mata hatiku menetes deras membanjiri pikiranku.

“Cara mendidiknya bagaimana bu?”

“ Kondisioning aja, tidak ada lagu, tidak ada Tv, saling menghafal dengan Kakaknya ketika adiknya menghafal sambil bermain ada yang salah maka Kakaknya menyahut membenarkan hafalan adiknya yang salah bacaanya. Jadi secara otomatis keluar saja. Sebenaranya bahwa semua anak bisa menghafal Al-Qur’an bila dikondisikan. Buat kita sekarang itu adalah membuat hafalan kita bisa menjadi akhlak yang baik. Menghafal itu mudah buktinyaorang sekuler pun bisa menghafalkannya. Namun yang sulit itu menjadikan hafalan qur’an menjadi akhlak yang baik jadi ada hubungan antara hafalan dengan akhlak yang ada dalam Al-Qur’an. Ya begitulah.”

“Oh ya..Ibu dari mana ?”

“Dari Bandung. Oh ya ‘afwan kita lagi ditunggu Bapak diluar mau cari suasana baru sebentar untuk anak-anak setoran hafalan atau muroja’ah bersama.” Ujar Ibu itu dengan senyum manis dan suara yang lembut.

SubhanAllaah ketiga anak Ibu penghafal Al-Qur’an. Kakak pertamanya Khadijah baru selesai hafalan Surat azzumar, juz 23 dan sudah memiliki hafalan tujuh juz. Allaah hatiku bergetar mendengarkan cerita Ibu Khadijah sang anak kecil yang memiliki hafalan Al-Qur’an berjalan yang kutemui dipelataran masjid Ulil Albab.

“Afwan..i’tikaf disini kan?” Tanya Ibu kepadaku.

“Iya bu..tetapi untuk malam nanti aku tidak bisa bu..karena mau kembali lagi ke bumi KKN/PPL.”

“Oh..ya..nanti ketemu lagi ya..”

“Iya bu..insyaAllah hari rabu depan aku akan kembali lagi kesini untuk I’tikaf..”“Oya..sipAssalaamu’alaikum” ujar Ibu sambil berdiri berjalan menggandeng tangan anak kecilnya yang memiliki Al-Qur’an berjalan dari pelataran masjid Ulil Albab menuju panggilan Bapaknya diluar pagar.

Kemudian kakiku pun langkah bergerak menuju daun pintu keluar masjid Ulil Albab untuk pulang menuju bumi KKN/PPL. Allah, kakiku terhenti sejenak, kaku, tak bisa bergerak. Kucoba melangkahkan namun hatiku meronta untuk tetap diam dan berhenti. Mataku tercengang ketika melihat pemandangan yang sangat indah. Pemandangan yang sangat menakjubkan hatiku. Ketika mata jeli ini, terpaku dan terpukau melihat dua orang lagi asyik bercengkrama. Terlihat sesosok wanita yang masih sangat muda sedang asyik bersama anak kecil mungil. Diam-diam kuperhatikan kebersamaan mereka dari balik tubuh wanita muda yang berilbab biru tua itu bersama anak kecil mungil dan cantik. Wajahnya yang imut dan lucu serta dilengkap dengan jilbab langsungan yang bercorak terang menambah keanggunan wajahnya. Cepat kuambil handphone di dalam saku jaket yang sedikit menghangatkan tubuhku beberapa jam semalam untuk kuabadikan. Allah..Hatiku terpukau dan terkagum-kagum

SubhanAllaah. Lalu apa yang sedang dilakukan oleh Ibu muda dan anak kecil mungil itu? Sungguh pemandangan indah ternyata, ketika kakiku memang benar-benar tidak ingin melewati peristiwa yang sangat menginspirasi dan menjadi alarm yang berdering serta meneteskan air mata dicawan hatiku. Ketika seorang Ibu dan anak kecil yang baru berumur tiga tahun sedang asyik bercengkrama berhadapan sambil asyik mengangkat dan menghitung jari tangan masing-masing.

Sungguh ini, bukan cengkrama biasa. Mungkin ada yang mengira seorang Ibu yang sedang mengajari anaknya belajar menghitung. Tetapi spontan kujawab “Itu salah. Saudaraku. Itu adalah seorang Ibu yang sedang mendengarkan hafalan Al-Qur’an anaknya yang kecil berumur tiga tahun. Bayangkan saudaraku, umur tiga tahun. Lalu yang lebih mencengangkan lagi bagiku, bukan menyetorkan hafalan surat-surat pendek yang sering di pakai diwaktu shalat oleh orang dewasa seperti An-nas, Al-Falaq, apalagi Al-ikhlas. Namun yang disetorkan oleh anak kecil mungil yang baru berumur tiga tahun itu adalah surat Al-Qari’ah dan Al-‘Adiyat. Sontak hatiku tercengang, terkagum-kagum dan menangis haru dan bahagia. Allaah. Maha besar kuasaMu. Ketika Kau takdirkan anak sekecil itu bisa menghafalkan kalamMu.

Lalu bagaimana dengan aku yang sudah Kau berikan kesempatan usia sampai detik ini. Masa SD, SMP, SMA, dan Kuliah telah terlewati. Lalu hafalan-hafalan apa saja yang telah aku miliki? Bahkan kalau dilihat dari nikmat waktu, pertanyaan yang pantas untukku sendiri adalah sudah berapa juzkah hafalan yang aku miliki? Allah..betapa malunya aku akan nikmat-nikmat waktu dan usia yang telah Kau berikan. Sungguh aku malu benar-benar malu dihadapan anak-anak kecil yang memiliki hafalan Al-Qur’an itu. Lari dan bermain mereka dengan suara Al-Qur’an yang berjalan. Terlantun dengan cepat dan lesat. Senyum dan tawa canda mereka ibarat bidadari-bidadari Surga yang menghiasi bumi Allah. Kepolosan dan keluguan mereka ibarat bidadari-bidadari Surga yang suci-sesuci telaga kautsar. Mereka adalah cahaya bagi orang tuanya yang akan memberikan mahkota di pelataran paling indah di Surga.

“Siapa saja yang hafal Al-Qur’an, mempelajarinya, dan mengamalkannya. Niscaya kedua orangtuanya akan diberi mahkota dari cahaya di hari kiamat.Sinarnya bagaikan sinar matahari.” Hr Hakim

Jangan tinggalkan membaca Al Qur’an. Semakin banyak baca Al Qur’an, urusanmu semakin mudah. Dan urusannya semakin mudah. Allah yang mengurus semua urusannya. Waktu pun semakin berkah. Apa yang dimaksud dengan berkah waktu? Bisa melakukan banyak hal dalam waktu sedikit.Itulah berkah Al Qur’an. Al Qur’an membuat kita mudah mengefektifkan manajemen waktu. Bukan kita yang atur waktu kita, tapi Allah.Padahal teorinya orang yang membaca Al Qur’an. menghabiskan banyak waktu, mengurangi jatah kegiatan lain. Tapi Allah yang membuat waktu jadi berkah. Hingga menjadi begitu efektif. Hidup pun efektif. Dan Allah akan mencurahkan banyak berkah dan kebaikan pada kita karena Al Qur’an Salah satu berkahnya adalah membuka pintu kebaikan, membuka kesempatan untuk amal shaleh berikutnya. Salah satu balasan bagi amal baik yang kita lakukan adalahkesempatan untuk amal baik berikutnya.

Teruntuk Surat Cintaku

Rangkaian indah dan paling indah diantara tulisan-tulisanku. Huruf-hurufnya yang keluar dengan makhrajnya. Kata perkatanya penuh makna nan indah. Bila dibaca menenangkan jiwa. Sehingga meneteskan air mata cinta karena Allaah. Duhai Pemilik Surat Cintaku. Hadirkan selalu aku untuk selalu mencintain suratcintaMu. Biarkan aku bermesraan berdua menghafalkan dan menghayati dari setiap makna isi ayat-ayatMu. Biarkan cinta ini selalu hadir di desah nafasku hingga berakhir kecahaya jannahMu dengan senyuman kebahagian.

Namaku adalah Ummi Sakdiah seorang mahasiswi UIN, santriwati di pondok Pesantren Mahasiswi Darush Shalihat, dan anggota FLP (Forum Lingkaran Pena) Yogyakarta. Alhamdulillaah telah ada empat karya cerpen saya yang sudah diterbitkan dalam bentuk antologi dengan penulis lain. Email :Ummiealfakir@gmail.com No hp : O852-733-04648 dan Fb : Ummie Sakdiah Babers.

Bagikan ke :
Share on Facebook Share on Google+ Tweet about this on Twitter Email this to someone Share on LinkedIn Share on Whatsapp

BERITA TERKINI

INVESTIGASI

BERITA SEBELUMNYA

PANjang CeritE

SIAPE Dan TUAPE

VIDEO

LAGU LAHAT

  • LAGU LAHAT