ISI

SANG GURU

Catatan Hefra Lahaldi di Hari Guru

25-Nov-2017, 23:11


LAHAT – Diparuh baya usianya sang calon guru mendapati kedudukan terhormat di tengah masyarakat. Ia terkagumi karena jujur dan baik budi. Mestinya, dibawah naungan ka’bah dirinya tinggal menghabiskan akhir hayatnya dalam bahagia hidupnnya. Tetapi tidak,  dirinya merasa gelisah dengan keadaaan kaumnya. Dirinya merasa perlu menyendiri dalam kesibukan kota. Di sini, di Jabal Nur kehadiran sang guru semesta bermula.

Senantiasalah agung sejarah kehidupan sang guru tercinta. Mari kita akumulasikan semua catatan keagungan ke semua manusia dalam rentang sejarah. Maka kita akan menemukan kesemuanya tergabung pada sosok guru semesta. Daalam kesendirian ia menyeru, bahkan ia ragu bersembunyi dalam selimut.. Waraqah pun berseru, ”Muhammad telah kedatangan Namus yang pernah datang kepada Musa, redakan takutnya!”.

Tercatat ratusan ribu muridnya setelah wafatnya. Lahir sebagai yatim yang tak berpunya, jazirah Arab diwariskannya kepada sahabat-sahabatnya..

Sang guru adalah penakluk luar biasa. Kekuasaaannya tak kalah dengan Kisra dan Istana madainnya. Namun sang guru begitu berbeda. Tatkala sang sahabat menangis bertanya, “Sungguh Kisra tidur dengan permadani sutra dan pelayannya begitu banyak jumlahnya, sedangkan engkau lebih mulia di hadapan Allah.”

Dengan bekas bilur tikar di pipinya sang guru tersenyum menyapa, “Apakah engkau tidak ridha mereka mendapat dunia sedang kita menyimpan akhirat ya Ibnu Khatab?!”.

Sang guru lebih menaklukkan hati dan jiwa untuk menyeru berpadu kepada Allah Yang Satu.

Sang guru juga suami yang nomor satu. Selalu ada roman mesra dalam kehidupan keluarganya. Dari nama panggilan sayang hingga berlomba lari dengan yang tersayang. Terompahnya dijahit sendiri. Adakalanya memasak dan mencuci.

Sang guru teman duduk dalam makan yang mengasyikan. Diusil pun beliau tak merasa sakit hati.

“Lihatlah!” seru Ali, “Rasul kita ini pasti lapar makannya banyak sekali!” canda Ali begitu cerdas dengan mengumpulkan biji kurmanya disamping sang nabi.

“Duhaiaaai!!” ujar Sang Nabi.

“Betapa laparnya diri ini. Tapi Ali lebih lapar lagi hingga biji kurma pun sampai tak tersisa lagi di sampingnya.”

Dalam pekerjaaan guru kita ini lebih luar biasa lagi. Selalu mencari celah untuk senantiasa berperan. Peran yang diambil pun selalu yang tersulit. Ketika saaat menyembelih domba semua sahabat berperan. Peran yang paling sulit mengumpul kayu bakar di gurun. Sang guru pun lakoni.

Tak seperti kita. Beliau guru dalam canda yang tak berbumbu dusta. “Wahai nenek, orang tua sepertimu tak akan pernah masuk surga!”

Begitu sedih sang wanita tua penanya meninggalkan nabinya. “Katakan kepadanya!” pungkas nabi dengan senyum yang paling terindah, “Tidak ada penghuni surga yang tua.”

Sang guru adalah orator paling dahsyat di muka jagad. Tidak ada seorang pun yang bosan dengan khutbahnya. Shubuh, zhuhur lanjut ke ashar hingga menjelang maghrib tak ada yang bergeming selain menyeru seruannya. Habib riziq mah lewat..(heheh)..  mungkin bukan hanya kesemua peri hidupnya itu saja yang membuatnya menjadi agung. Tapi, beliau Rasulullah mewariskan guru-guru semesta lainnya yang menjadikannya Agung. Yang lebih agung lagi adalah seruannya. Seruan kepada Allah yang nantinya akan menjadikan kita semua guru semesta.

Yang paling sederhana, gambaran umum yang menempatkannya sebagai teladan mulia adalah sebagai mana yang direkam Anas bin malik, “Sepuluh tahun aku tinggal di rumah Rasulullah. Selama itu pula aku belum pernah mendengar kata-kata kasar dan peretengkaran”.

Duhai…  Sang guru tergagap sudah lidah-lidah kami untuk memanjat doa dan shalawat padamu.. Yang kami tahu engkaulah guru diatas guru semaha guru.

(Aan LO)

Bagikan ke :
Share on Facebook Share on Google+ Tweet about this on Twitter Email this to someone Share on LinkedIn Share on Whatsapp

BERITA TERKINI

INVESTIGASI

BERITA SEBELUMNYA

PANjang CeritE

SIAPE Dan TUAPE

VIDEO

LAGU LAHAT

  • LAGU LAHAT