ISI

PUISI AAN KUNCHAY: HIKAYAT LELAKI PEJALAN

6-Sep-2017, 08:37


HIKAYAT LELAKI PEJALAN

I

tungkai mungil

lincah membelah padang ilalang di belakang

cucur keringat ibu memanggul kinjagh

sebelah tangannya kokoh menjinjing jeriken bambu

“tak perlu berlari anakku. jalanan hidup bukan bersahabat pada yang terburu

kelak engkaulah pejalan itu. langkahlangkah menyulam gugusan sejarah

menyusuri gelap dan suram seorang diri

terseok mendaki puncak mimpi. jika bertuah

engkaulah pejalan yang sejalan dengan ajaranajaran,”

 

kaki mungil nan lincah melambat bingung

kerut di kening menyesap kesiur angin. mencerna untaian kata

diliriknya bunga ilalang beterbangan

mengusik belalangbelalang bersembunyi

 

di tebing. di antara segar rimbun sikejut. dituntunnya langkah ibu

“anakku berjalanlah dengan menunduk. onakonak mengintai sepanjang lengah.

kelak engkaulah pejalan itu. terasing dari orangorang berlari. dengan berjalan kau tahu siapa pantas dinanti.

dengan berjalan matamu awas

menyaksikan kepedihankepedihan

yang merintih di sunyi sepi. kelak di tengah jalan, genang airmata

banyak kautemui. gegas tak perlu berlari

waktu jualah penghantar takdir.”

 

langit menjingga. tiba mereka di pangkalan mandi

di atas batu ibu mencuci. di atas batu sang anak memahat petuah

riak mengalirkan kisah ke muara zaman

 

II

“menyelamlah sedalamdalam kenangan! kaut dan dekap

segala yang datang dari masa lalu!” teriak ibu dari atas batu

usai membilas pakaian terakhir

 

si anak tak hirau. kenangan seperti apa yang sangkut di masa belia? tiadalah yang lebih pantas dikenang selain embun dari mata ibu

yang meruah kala menanak nasi di dapur lengang

asap mengepul bagai gumpalan uap amarah

atas kepergian abah

 

“ibu, dendangkanlah nyanyian pengelana!”

ibu terkesiap

diusapnya rinai yang turun di kelopak bisu

segera dirinya menyelam. menyembunyikan luka dalam. dalam.

 

si anak sigap menunggangi kaki ibu yang berselonjor di dangkal sungai

kaki ibu mengayunayun tubuh kecilnya. perlahanlahan syair terlantun

merdu irama menyaingi deru sungai di telinga semesta

“terkisah bujang memeluk rantau

tinggalkan talang tinggalkan pulau

tinggallah ibu tinggallah surau

tinggallah sawah tinggallah dangau

 

di rantau bujang jangan bermuram

lafalkan kalam di kala malam

usah dikenang silam yang suram

jangan turuti kehendak dendam”

 

syair itu menghentak sekujur waktu

si anak terlelap di ribaan arus

 

III

beduk segera ditabuh

ke surau anak menenteng suluh

melangkahi halaman basah rumah ibu

 

di remang surau

dianggitnya alif ba ta tsa

menjadi rangkaian pijakan kelana

di langitkan petitih tetua

: tiada pejalan lupakan kandang

surau tempat kaupulang

surau tempat berpulang

 

Lahat, 2017

Bagikan ke :
Share on Facebook Share on Google+ Tweet about this on Twitter Email this to someone Share on LinkedIn Share on Whatsapp

BERITA TERKINI

INVESTIGASI

BERITA SEBELUMNYA

PANjang CeritE

SIAPE Dan TUAPE

VIDEO

TUTORIAL “LEMANG” POLISI LAHAT

  • TUTORIAL “LEMANG” POLISI LAHAT

SINERGITAS POLRES LAHAT

  • SINERGITAS POLRES LAHAT